Empat Mutiara Kehidupan Menjadi Pesan Utama Pengajian Fatayat NU Wonorejo
- Jun 21, 2026
- DESSE ARIA DEWI
Wonorejo, Kedungjajang – Fatayat NU Desa Wonorejo kembali menggelar pertemuan rutin bulanan pada Sabtu, 20 Juni 2026, bertempat di rumah Ibu Maria Ulfa yang berlokasi di Blok Pondok Pesantren Syarifuddin, Dusun Wetan Sepuran, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh anggota Fatayat NU serta masyarakat sekitar yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Pertemuan rutin ini diselenggarakan sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota Fatayat NU sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan melalui pengajian dan tausiah yang disampaikan oleh tokoh agama setempat.
Pada kesempatan tersebut, para jamaah mendapatkan tausiah dari Nyai Hj. Qurraty A’yun, Pengasuh Pondok Pesantren Syarifuddin. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang empat mutiara atau kebaikan yang telah Allah SWT anugerahkan kepada manusia sejak diciptakan.
Menurut beliau, terdapat empat mutiara kehidupan yang harus dijaga oleh setiap manusia, yaitu:
1. Akal
2. Agama
3. Rasa malu
4. Amal saleh
Keempat hal tersebut merupakan bekal penting yang dapat mengantarkan manusia menuju kehidupan yang penuh keberkahan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat.
Namun demikian, Nyai Hj. Qurraty A’yun juga mengingatkan bahwa mutiara-mutiara tersebut dapat hilang atau rusak apabila seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya dari empat perilaku buruk, yaitu:
1. Marah atau amarah yang berlebihan
2. Hasad, iri, dan dengki terhadap orang lain
3. Tamak atau serakah terhadap urusan dunia
4. Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain
Dalam tausiahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga hati, memperkuat keimanan, serta memperbanyak amal saleh agar empat mutiara kehidupan tersebut tetap terpelihara.
“Manusia telah dibekali akal, agama, rasa malu, dan amal saleh. Oleh karena itu, kita harus menjaga anugerah tersebut dengan menghindari sifat marah, iri hati, tamak, dan ghibah yang dapat merusak kebaikan dalam diri,” pesan beliau di hadapan para jamaah.
Selain menjadi sarana menimba ilmu agama, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat Desa Wonorejo. Suasana kekeluargaan tampak terjalin erat selama kegiatan berlangsung, mulai dari pembacaan tahlil, shalawat, hingga sesi tausiah dan doa bersama.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, Fatayat NU Desa Wonorejo terus berupaya menjadi garda terdepan dalam pembinaan keagamaan perempuan dan keluarga, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.