Menjaga Sholat Lima Waktu, Menjaga Jalan Pulang: Pesan Menggetarkan dari Pengajian AN NAJAH Wonorejo
- Jul 18, 2026
- DESSE ARIA DEWI
Lumajang – Suasana religius dan penuh keakraban menyelimuti Pengajian AN NAJAH RT 07 RW 03 Dusun Krajan, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jumat malam Sabtu, 17 Juli 2026. Bertempat di kediaman Ibu Endang Wahyuni, warga RT 06 RW 03 Dusun Krajan, kegiatan pengajian rutin tersebut kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat keimanan sekaligus mengingat kembali kewajiban utama seorang Muslim.
Pengajian AN NAJAH yang rutin digelar setiap Jumat malam Sabtu itu menghadirkan Ibu Hj. Munasifah sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga sholat lima waktu sebagai kewajiban utama bagi setiap orang Islam yang telah mukallaf.
Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, Hj. Munasifah mengajak jamaah untuk tidak memandang sholat hanya sebagai rutinitas ibadah, melainkan sebagai tiang kehidupan seorang Muslim dan bukti nyata ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Sholat lima waktu merupakan kewajiban bagi orang Islam yang sudah mukallaf. Karena itu, jangan sampai kita hanya mengaku Islam, tetapi meninggalkan kewajiban-kewajiban yang menjadi bagian dari rukun Islam,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa Islam memiliki lima rukun yang menjadi dasar kehidupan seorang Muslim, yakni membaca syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, serta menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.
Lima Keutamaan bagi Orang yang Menjaga Sholat
Dalam tausiyahnya, Hj. Munasifah menyampaikan sejumlah keutamaan yang akan diperoleh oleh orang yang senantiasa menjaga sholat lima waktu.
Di antaranya, rezekinya akan mendapatkan keberkahan, dijauhkan dari siksa kubur, menerima catatan amal dengan tangan kanan, dimudahkan ketika meniti shirathal mustaqim, serta mendapatkan kesempatan masuk surga tanpa hisab.
Pesan tersebut membuat suasana pengajian semakin khidmat. Jamaah diajak untuk melakukan introspeksi, terutama terhadap pelaksanaan sholat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, di tengah kesibukan bekerja, mengurus keluarga, dan menjalani berbagai aktivitas, sholat sering kali menjadi ibadah yang diuji konsistensinya. Padahal, lima waktu sholat hadir sebagai pengingat bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berhenti sejenak dari urusan dunia dan kembali menghadap Sang Pencipta.
Peringatan tentang Akibat Meninggalkan Sholat
Selain menyampaikan keutamaan menjaga sholat, Hj. Munasifah juga memberikan peringatan tentang berbagai akibat bagi orang yang meninggalkan sholat.
Dalam tausiyahnya disampaikan bahwa di dunia, orang yang meninggalkan sholat dapat kehilangan keberkahan umur, dihapus tanda-tanda kesalehannya, amal yang dikerjakan tidak mendapatkan pahala, doa tidak naik ke langit, serta tidak mendapatkan bagian dari doa orang-orang saleh.
Sementara di alam kubur, disampaikan pula berbagai gambaran peringatan, di antaranya kubur yang sempit, mendapatkan siksa, serta didatangi ular yang menjadi bagian dari gambaran hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat.
Adapun di hari kiamat, orang yang meninggalkan sholat akan menghadapi hisab yang berat, mendapatkan kemurkaan Allah SWT, serta terancam mendapatkan siksa neraka.
Pesan tersebut disampaikan bukan untuk menakut-nakuti jamaah, melainkan sebagai pengingat agar setiap Muslim tidak meremehkan kewajiban sholat lima waktu.
Pengajian sebagai Ruang Menguatkan Keimanan
Pengajian AN NAJAH bukan sekadar kegiatan rutin keagamaan. Di tengah suasana kekeluargaan, kegiatan ini menjadi ruang bagi warga untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dari rumah ke rumah, dari satu majelis ke majelis berikutnya, semangat warga untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius.
Kehadiran jamaah pada pengajian tersebut menunjukkan bahwa tradisi majelis ilmu masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat. Melalui pengajian, pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan secara langsung, hangat, dan menyentuh kehidupan sehari-hari.
Dari kediaman Ibu Endang Wahyuni malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah bukan hanya tentang pahala dan hukuman. Lebih dari itu, ada sebuah pengingat sederhana namun sangat dalam: jangan sampai kesibukan dunia membuat manusia lupa kepada kewajiban utama untuk menghadap Allah SWT lima kali dalam sehari.
Pengajian AN NAJAH pun kembali meneguhkan perannya sebagai majelis yang tidak hanya mempererat silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi tempat untuk saling menguatkan iman, memperbaiki diri, dan menjaga semangat beribadah dalam kehidupan sehari-hari.